Mutiara dan Si Urat Emas

Si Urat Emas dan Mutiara. [facebook-nazarudinazhar]
Oleh Nazarudin Azhar, desainer grafis dan sastrawan yang banyak menulis dalam Bahasa Sunda.

Akhir tahun 2018 ini, dilengkapi oléh satu kebahagiaan: terbitnya dua buku berbahasa Sunda yang diprakarsai oléh dua anak muda. Kedua buku tersebut yang menemani saya menghabiskan sisa hari di tahun ini. Keduanya saya nikmati betul sebagai buku yang menggetarkan, memulihkan kembali semangat membaca buku berbahasa Sunda, di tengah lesatan kemajuan dunia digital; di mana semua orang bisa menuliskan apapun dan mempublikasikannya semudah buang angin. 

Buku yang saya maksud adalah "Mutiara", novel John Steinbeck yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Sunda oléh Atép Kurnia, diterbitkan oléh Penerbit Layung, cetakan I, Novémber 2018.

Buku kedua adalah kumpulan carita pondok Godi Suwarna, "Carios si Urat Emas", diterbitkan oléh penerbit Silantang, cetakan I, Désémber 2018.

Kedua buku tersebut patut mendapat sambutan hangat, minimal karena beberapa hal. 

Pertama, tentu saja setiap penerbitan buku berbahasa Sunda harus diapresiasi sebagai wujud perjuangan dalam menjaga dan memelihara keberadaan Bahasa Sunda. Ini adalah sebuah langkah kongkrét di tengah semangat "ngamumulé" Bahasa Sunda, sebagaimana kerap dilontarkan oléh berbagai pihak yang selalu khawatir Bahasa Sunda akan punah, lalu getol melaksanakan beragam seminar, diskusi, atau kongrés. 

Kedua, buku ini diterbitkan oléh penerbit yang didirikan oléh anak-anak muda. Penerbit Layung milik Zhulfy "Miko". Pemuda dari Tarogong Kidul, Garut. Sebelum menerbitkan "Mutiara", Layung telah menerbitkan antara lain novel "Déng" karya Godi Suwarna, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonésia oléh Déri Hudaya, dan penerbitan ulang sebuah buku terjemahan karya Oktavio Vaz. 

Terbitnya "Mutiara" telah memantapkan langkah Miko untuk menekuni penerbitan buku-buku sastra Sunda, dan buku tentang kesundaan, baik yang berbahasa Sunda maupun Indonésia. Keseriusannya sebagai penerbit antara lain dengan menggandéng Atép Kurnia sebagai redaktur penerbit Layung. Atép dikenal sebagai anak muda yang inténs meneliti berbagai hal terkait sastra dan pustaka Sunda. Ia juga penulis, penerjemah, dan éditor yang handal. 

Kemudian penerbit Silantang, didirikan oléh Lugiena Dé, berbasis di Cibiru, Bandung. Déa, panggilan Lugiena, adalah sastrawan muda yang juga bekerja sebagai guru. Karyanya antara lain buku kumpulan carpon "Jeruk" (asasupi, 2016). 

Kumpulan carpon "Carios si Urat Emas" adalah buku perdana yang diterbitkan oléh Silantang. Buku yang benar-benar menampakkan Silantang sebagai penerbit buku Sunda yang daria. Déa dengan dukungan Dadan Sutisna --sastrawan dan dokuméntator paling tekun hingga sejauh ini, dan menulis catatan yang sangat bagus di buku Carios si Urat Emas -- berupaya mencari bahan untuk buku ini tanpa melibatkan sang pengarang. Ia mengumpulkan carpon Godi Suwarna dari sejumlah média, memilahnya untuk diterbitkan sebagai buku, dan mengurus izin dari pengarang setelah terwujud manuskrip. Bagi pengarang, pastilah hal semacam ini adalah kejutan yang menyenangkan. 

Meski penerbit baru, Layung dan Silantang, hadir dengan profésional. Semua aspék yang tekait dengan usaha penerbitan, dilaksanakan dengan baik. Mendirikan perusahaan secara légal formal yang tentunya berimplikasi pada kewajiban bayar pajak, mengeluarkan modal untuk desain dan percetakan, dan membayar royalti pada pengarang. Hal ini saya ceritakan untuk menegaskan pembéda antara kedua penerbit ini dengan penerbit "indie" yang hanya berfungsi sebagai penerbit saja sedang hal lain ditanggung si pengarang. 

Menerbitkan buku berbahasa Sunda sudah pasti menjadi pilihan yang berani. Orang Sunda berpuluh juta banyaknya, tapi entah berapa persén yang senang membeli buku. Meréka tentu sudah memperhitungkan bagaimana cara memasarkan buku-buku yang meréka terbitkan. Saya berdoa agar usaha meréka mendapat kelancaran, apalagi menerbitkan buku Sunda adalah juga sebentuk jihad, karenanya semoga meréka mendapat berlipat ganjaran, baik berupa matéri maupun kebahagiaan.

Hal lain yang menyenangkan adalah buku-bukunya énak dibaca. Pemakaian font, layout, juga kertas yang digunakan sangat nyaman di mata. Ini juga penting karena kenyamanan saat membaca sebuah buku harus benar-benar diperhitungkan, terutama bagi pembaca yang rakus, yang kerap harus menyelesaikan sebuah bacaan menarik seperti orang yang tengah melampiaskan kerinduan. 

Hal terakhir, dan ini sangat mengharukan secara personal, adalah saat saya membaca kedua buku ini ditemani bercangkir kopi dan berbatang kréték yang saya beli dari honor membuat kaver kedua buku ini (setelah sebelumnya saya juga membeli beberapa buku lain sebagai rasa syukur). Kerén kan? Tentu saja! Saya merasa tengah dirahmati oleh berkah yang melimpah. 

Terakhir, dan ini yang terpenting, kedua buku ini harus dimiliki dan dibaca. Untuk membelinya Anda bisa langsung menghubungi penerbit Layung (0813 2267 9851), dan penerbit Silantang (0815 7186 576). John Steinbeck dan Godi Suwarna, telah berbagi kisah yang mengguncang perasaan, dan penerbit Layung dan Silantang telah memudahkan Anda untuk membacanya. Silahkan!

Sebelum saya tutup tulisan pendek ini, ada baiknya saya sisipkan juga komentar dan "pengalaman" editor "Carios Si Urat Emas" sekaligus bos Silantang, Lugiena De. 

"Mendirikan Silantang dan menerbitkan Si Urat Emas bagi saya adalah proyek main-main yang akhirnya tidak main-main. Proses yang sebetulnya gampang, tetapi menjadi menguras tenaga, karena -selain ngamimitian, mengawali - semua ini dikerjakan di tengah hajaran tugas-tugas administrasi guru yang maha tidak menarik, serta pekerjaan mengedit buku Geger Sunten orderan Mang Haji Taufik Faturohman," kata Dea. "Tanpa bantuan beberapa pihak, terutama Mang Dadan Sutisna, buku ini tidak mungkin terbit 2018. Tanpa bantuan Kang Nunu pula, kaver buku ini mungkin hanya sekedar ide yang tidur lelap di dalam kepala," kata Dea lagi, seraya berterimakasih kepada saya.

Bahkan, kata Dea, sampai detik ini Silantang belum diurus NPWP-nya. "Kewajiban membayar pajak kepada negara belum saya tunaikan. Untuk itu saya memohon maaf kepada Pak Jokowi dan Ibu Sri Mulyani. Semoga mereka berdua mengerti," kata Dea.

Ia pun tak lupa memberi penghormatan dan berterimakasih kepada Godi Suwarna. "Buku ini tentu saya persembahkan kepada Mang Prebu Godi Suwarna, seseorang yang banyak menghutangkan budi kepada saya di alam lain. Kegembiraan saya mungkin lebih besar dari kegembiraan belio sendiri. Karena bagi belio mah buku ini téh anaknya yang kesekian. Tapi bagi saya, Si Urat Emas itu anak cikal," ujar Dea.

"Insya Allah, proyek penerbitan selanjutnya sedang menunggu. Akan saya kerjakan bersama gelandang sayap kiri Persib, Lord Atep Kurnia. Pidu'ana we," tandas Lugina, berseloroh sambil meminta do'a dari kita semua.

*) Artikel ini pertama kali tayang di wall status penulisnya. Ditayangkan ulang di sini atas izin yang bersangkutan.

Post a Comment

0 Comments